Minggu, 09 Maret 2014

Phytagoras dan Buncis


Phytagoras
c2 = a2 + b2

Ketika duduk di bangku sekolah, kita tentu sering menggunakan rumus di atas yang familiar dengan sebutan Rumus Phytagoras. Prinsipnya, kuadrat sisi miring segitiga tersebut sama dengan kuadrat kedua sisi tegaknya.

Yang unik, ternyata rumus ini tidak berasal dari pemikir Yunani kuno ini (Phytagoras). 1000 tahun sebelum masa Phytagoras, orang-orang Yunani sudah mengenal penghitungan “ajaib” ini. Namun teorema ini dikreditkan kepada Phytagoras, karena Beliaulah orang yang pertama kali membuktikan formula ini secara matematis.
Teorema Phytagoras
namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia lah yang pertama membuktikan pengamatan ini secara matematis
Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2012/09/biografi-pythagoras.html#ejM3HmLh4PWIEBIT.99
namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia lah yang pertama membuktikan pengamatan ini secara matematis.
Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2012/09/biografi-pythagoras.html#ejM3HmLh4PWIEBIT.99
namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia lah yang pertama membuktikan pengamatan ini secara matematis.
Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2012/09/biografi-pythagoras.html#ejM3HmLh4PWIEBIT.99
namun teorema ini dikreditkan kepada Pythagoras karena ia lah yang pertama membuktikan pengamatan ini secara matematis.
Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2012/09/biografi-pythagoras.html#ejM3HmLh4PWIEBIT.99
Pythagoras barangkali dapat disebut sebagai pemikir garda depan di zamannya. Dia juga seorang orator ulung, intelektual terkenal, sekaligus guru yang karismatik. Semua itu membuat banyak orang belajar darinya. Tidaklah mengherankan apabila tidak lama kemudian dia mempunyai banyak pengikut dan akhirnya mendirikan sekolah
Read more at http://info-biografi.blogspot.com/2012/09/biografi-pythagoras.html#ejM3HmLh4PWIEBIT.99
Hal lain yang dinisbatkan kepada Phytagoras adalah perbandingan emas (golden ratio). Pada masa lalu, matematika memang tidak melulu hanya berkaitan dengan angka atau merupakan ilmu “kaku”. Matematika digunakan untuk menjabarkan filsafat dan mengejar keindahan. Termasuk golden ratio ini.
Phytagoras berprinsip bahwa “Segala sesuatu adalah angka; dan perbandingan emas adalah raja semua angka.”

Phytagoras percaya bahwa dirinya adalah reinkarnasi Euphorbus, seorang pahlawan Troya. Sebagai penganut reinkarnasi, ia percaya pula semua jiwa manusia dan binatang akan berpindah ke jasad lain. Karena tak mau berpindah menjadi kambing atau sapi misalnya, Phytagoras pun mengatur makannnya dengan ketat. Ia hanya mau memakan buah dan sayur alias vegetarian. Namun, tidak semua tumbuhan dimakannya. Phytagoras anti memakan Buncis karena alasan pribadi. Pertama, karena baginya buncis bisa membuat perut kembung, sesuai bentuknya. Alasan lain, Buncis berbentuk mirip alat kelamin lelaki.

Kebun Buncis

Pantangnya Phytagoras pada buncis ini berakibat fatal. Dikisahkan, suatu hari rumah Phytagoras dibakar para musuhnya, yang tak lain adalah orang-orang yang membencinya karena ditolak menjadi anggota sekte Phytagorean. Anggota sekte berlarian dan dibantai satu persatu. Terakhir, tinggal seorang Phytagoras sendiri. Ia berlari hingga tiba di depan ladang Buncis. Ketika berada di sana, tamatlah riwayatnya. Phytagoras berbalik arah dan berkata pada para pengejarnya, lebih baik mati daripada mesti melewati ladang buncis. Maka, berakhirlah nasib sang penemu golden ratio ini dengan cara dipotong lehernya.

Cerita tragis inilah yang tidak pernah disampaikan ketika guru matematika menjelaskan ini dan itu, tentang angka-angka rumit, penghitungan tingkat tinggi, dan seterusnya. Padahal, menceritakan sejarah matematika pasti menyenangkan dan membuat murid berpikir, matematika tak sekaku yang dibayangkan. Setidaknya, ahli matematika atau fisika dan padanannya, tidak akan dicitrakan sebagai pria berkacamata dan berkepala botak yang tidak bisa menyukai lawan jenis karena sibuk dengan kalkulator.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini